• Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Sabtu, 04 Mei 2013

Jelajah Rohani dan Kuliner Bandung

Bandung adalah ibu kota Jawa Barat. Kota sejuta pesona wisata. Kota dengan beragam wisata kuliner. Kota yang dipastikan rame dan padat di waktu weekend, apalagi libur panjang anak sekolah. Kota dengan tata kota yang berantakan, Kota yang tiap hari Minggu dari pagi sampai siang bakalan ramai sama pasar tumpahnya di alun-alun depan Gedung Sate, yang di waktu yang sama ada Car Free Day di daerah Dago sepanjang Simpang Dago - Bandung Indah Plaza (BIP).

Untuk tulisan kali ini, gue bakal sharing tentang perjalanan one day trip dengan dua temen SMA gue; Adit Pratama (Pret), orang Antapani yang jadi guide soal rute perjalanan yang kita lakuin dan Giri, turis Jepang asli Bandung yang emang lagi kerja di sana aja :)) Jalan-jalan satu hari ini kita lakuin hari Sabtu, dengan kondisi kepadatan jalan yang lumayan macet. Tema perjalanan kali ini adalah Wisata Kuliner dan Wisata Rohani. 

Langsung aja disimak perjalanan yang gue lakuin place by place:

 

1. Batagor Kingsley, Jl. Veteran 25 Cimbeuluit

 

Foto bareng Turis Jepang di Batagor Kingsley :))


Batagor Goreng, 1 porsi isinya 3 potong. Enyakk~ :3

Batagor udah lama jadi icon Bandung. Dan nama Kingsley masuk top chart ampuh per-batagor-an Bandung. Alasan kenapa kita pilih batagor, karena Giri udah lama pengen makan batagor. Di Jepang sana doi gak nemu batagor, cuy. Jam 10 pagi kami berangkat ke Kingsley, tempatnya ramai, kalau bawa mobil, parkir pun harus dipinggir jalan dan agak jauh saking penuhnya. Sesampai di sana, kami pesan 2 porsi batagor dan siomay. Kesimpulan kami dengan harga jual per potong batagor yang tergolong mahal; batagornya enak, tapi siomaynya biasa aja, gak senendang batagornya.



2. Mesjid Raya Bandung, Alun-Alun Kota


Foto Landskap Mesjid Raya dengan dua menara kembarnya
Delman Domba, banyak yang mengira gue lagi di Garut atau Tasik

Sehabis ngemil batagor, kami melanjutkan perjalanan ke Mesjid Raya Bandung (sebelumnya bernama Mesjid Agung Bandung, resmi berganti nama 4 Juni 2003). Ceritanya wisata rohani sekalian menunaikan ibadah sholat Dhuhur. Buat yang bawa mobil pribadi, Mesjid Agung punya parkir sendiri, dan itu parkir basement, cuma untuk ke sana memang harus sedikit mencari dan sedikit berputar-putar. Begitu sampai di taman depan Mesjid, kita akan disuguhkan dengan banyaknya pedagang yang berjualan di sana. Dari jualan makanan, pernak pernik, pengobatan alternatif, permainan anak sampai delman domba bisa ditemukan di sini.

Mesjid ini memiliki ruangan yang luas dan besar untuk tempat beribadah. Hal yang sedikit heran adalah, banyak orang yang sholat hanya sebatas di "ruang depan" bangunan, tidak di bangunan utama. Pertanyaan yang sampai hari ini belum gue temukan jawabannya.

Mesjid ini memiliki dua menara kembar besar yang bisa kita kunjungi. Menara dengan tinggi sampai 81 meter dengan 19 lantai ini bisa diakses oleh individu pada hari Sabtu-Minggu (weekday khusus untuk rombongan saja) dengan membayar dua ribu rupiah di loket depan pintu masuk lift. Dari sana, kita bisa melihat pemandangan kota Bandung dari puncak menara. Hal yang disayangkan adalah, jendela menara yang kotor, dan penerangan ruangan yang kurang, sehingga mengganggu optimasi kenarsisan foto yang diambil.



3. Bakso Enggal Malang, Jl. Terusan Pasteur 61 Bandung



Bakso Enggal Malang, tempatnya mudah dikenali
Pilihan baksonya beragam jenis

Dari Mesjid Agung, kami bermaksud untuk juga melanjutkan wisata rohani ke Mesjid di Padalarang. Dan ketika rasa lapar kembali mengintai, kali ini kami menepi ke Baso Enggal yang terletak di kawasan Pasteur arah Gerbang Tol Pasteur. Bakso yang disajikan beraneka ragam dan disajikan secara prasmanan. Kita bisa mengambil sendiri baso yang kita mau untuk kemudian dihitung kemudian, atau memilih paket satu porsi bakso dengan minum. Harga paketnya berkisar 14-17 ribu rupiah. Saat itu kami mengambil paket secara prasmanan, dan harga yang dikenakan kurang lebih sama dengan kisaran porsi yang ditawarkan.



4. Mesjid Al-Irsyad, Kota Baru Parahyangan


Tepat 30 menit sebelum waktu sholat Ashr masuk, setelah melewati jam matahari terbesar di Indonesia, di depan gerbang masuk Kota Baru Parahyangan, kami sampai di Mesjid Al-Irsyad, hasil karya design dari arsitek yang juga merupakan dosen ITB, Ridwal Kamil. Mesjid yang terletak di Kota Baru Parahyangan, Padalarang ini adalah mesjid yang anti-mainstream. Dia tidak memiliki kubah emas yang memiliki bulan dan bintang di ujungnya. Bangunan Mesjid ini menyerupai Kabah, berbentuk kotak persegi namun berwarna dominan putih, dengan lubang-lubang ventilasi udara yang disusun menyerupai dua kalimat tauhid, "Laailaha ilallah Muhammad Rasulullah."


Tampak depan bangunan unik Mesjid Al-Irsyad
Tata ruang yang unik dan menakjubkan
Terdapat pula lafatz nama-nama Asmaul Husna Allah di langit-langit dalam bangunan Mesjid. Hal yang paling menarik lagi dari Mesjid ini adalah, suguhan pemandangan yang unik, ketika kita masuk ke dalam Mesjid. Coba datangi sendiri dan rasakan sensasi takjubnya langsung. Gue sih merekomendasikan untuk datang sekitar pukul 5 sore dan melaksanakan sholat Maghrib di sini *padahal sendirinya belum cobain *disiram air kolam.



5. Bandoeng Tempoe Doeloe, Kota Baru Parahyangan


Danau Kota Baru Parahyangan

Selepas Sholat Ashr, kami menyempatkan untuk sedikit berputar-putar di daerah Kota Baru Parahyangan. Kami yang bermaksud untuk mencari danau di sini malah tersesat menemukan Kompleks Bandoeng Tempoe Doeloe. Kompleks ini adalah bangunan yang memang didesain dengan bentuk perumahan hunian dengan model bangunan rumah yang luas dan memiliki ruang taman yang cukup. Dan jalanan yang membentang termasuk dalam kategori jalan yang besar dan lebar. Ibarat Jalan Braga tapi tanpa pedagang kaki lima.

Lalu bagaimana dengan danaunya? Bisa dikatakan bahwa danau yang ada di tempat ini belum tertata dengan rapi. Jalannya masih bebatuan tanah, banyak warung di sana namun terkesan berantakan.



6. Bebek Ali Boromeus, Jl. Hassanudin 8, Persis Depan RS Boromeus


Kalau mau makan ke sini, ingat-ingat gambar tulisan ini
 
Ini tampilan Sang Bebek Goreng


Atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bebek Boro. Ini tempat baru bukan jam 5-5.30 sore. Ini tempat rame banget, gak boong deh! Kami bertiga sampai jam 5, orang-orang tenda masih pada siap-siap. Gak ada 30 menit, kursi-kursi plastik yang sebelumnya gak bertuan udah hangat sama pantat-pantat pengunjung yang duduk manis sambil ngeliatin menu makanan yang mau mereka pesan. Lebih ekstrim lagi 20 menit kemudian, pas kita yang udah sadar sama kondisi sekitar (karena emang udah abis juga makan bebek goreng-nya) udah banyak yang antri berdiri nyariin kursi buat duduk dan makan. 

Gue gak tahu sihir apa yang dipake sama akang yang jualan ini bebek goreng sampai orang bisa ngantri sebanyak itu padahal doi baru buka lapak. Tapi kalau mau ditanya rasa, buat gue yang menilai bebek bukan dari sambelnya (ya iya lahhh, mana kuat gue sama sambel!!!), bebeknya enak, hipu! Dan harganya bersahabat pisan! 
*FYI, harga tiga porsi bebek goreng Boromeus  < dua porsi batagor dan siomay Kingsley :))



7. Mesjid Salman ITB, Jl. Ganesha No. 7 Bandung, Persis Depan Kampus ITB


Mesjid Salman, masih tetap asri dan hommy
Sekarang ada tv LCD nya itu woyyy!!

Beres makan besar, saatnya sholat Maghrib. Sebenarnya ada dua pilihan mesjid terdekat dari warung Bebek Ali Boromeus, ada Mesjid Salman ITB dan Mesjid Al-Jihad Unpad. Karena kalah jumlah suara (1 alumni Unpad, 2 alumni ITB, halahh), maka kami memutuskan untuk sholat di Mesjid Salman ITB.

Mesjid Salman ITB memiliki bangunan yang rapi, asri, dan nyaman. Buat gue yang udah lama banget gak main ke sini, pemandangan teras depan tempat penyimpanan depan sepatu bikin gue takjub. Sekarang di sana udah dipasang tv lcd gitu di atasnya! *yes, berasa kampung gue, tapi ya, sudahlah. Suasana sholat yang didominasi oleh anak-anak muda terasa sekali di mesjid ini. Seakan biarpun sedang hari libur, mesjid ini tidak akan pernah sepi dikunjungi oleh para jemaah untuk menunaikan sholat berjamaah.



8. Martabak San Fransisco, Jl. Dago 105



Martabak SF, Juara Martabak Telor nya

Selepas sholat Maghrib, kami berpisah. Giri pulang ke rumah untuk melanjutkan wisata kuliner di ulang tahun teman SMPnya. Dan gue pulang sambil diantar oleh Pret. Tapi sebelum pulang, gue menyempatkan membeli oleh-oleh makanan untuk orang rumah. Pilihan jatuh untuk membeli martabak, pilihan klasik yang selalu bikin kangen.

Martabak adalah kata yang akan gue selalu ingat. Makanan yang rotinya dibuat dari adonan tepung dan mentega ini (potensi kolesterol tinggi ya? wkwk) memang gak pernah bikin gue bosen buat menyantapnya. Dan kalau sebelumnya kita ngomongin chart per-batagor-an, maka untuk top chart per-martabak-an Bandung, nama San Fransisco (SF) itu gue yakin masuk 4 besar deh. Doi punya banyak cabang sekarang, toko aslinya dari Burangrang, daerah Buah batu *bukan promosi *sumpah gak boong *boleh deh dikemplang martabak

Toko SF yang gue datangi saat ini adalah toko cabangnya di Dago. Dengan tagline "New Concept" (yang gue sendiri gak tahu artinya apa dan gak bertanya), gue pesanlah Martabak Telor Special (menulisnya aja udah bikin ngiler kelaperan). Harganya termasuk menengah ke atas, tapi kalau udah coba gigit, selalu sukses bikin ngambil lagi dan lagi. Warna rotinya khas coklat keemasan, adonannya padat berisi, rasa dagingnya kuat, NYAMMYYY~~~ lo gak akan ngerasa yang namanya makan kulit tepung dan sayur doang!


...


Demikian perjalanan gue hari itu, big thanks kepada saudara Giri, turis Jepang yang udah sempet-sempetin main sama kita seharian pas lagi ngambil liburan Golden Week dan juga Pret yang udah ngojekin gue pulang pergi dari rumah ke rumah Giri, hoho. 

FYI, waktu one day trip ini gue "gak sengaja" ketinggalan dompet di rumah, jadi cuma bawa handphone doang buat poto-poto dan nulis catatan perjalanan :p

0 komentar:

Posting Komentar

REPORTS

Know more about my adventures


TRAVELING

  • INDONESIA

    Sumatera

    Nangroe Aceh Darussalam | Bangka Belitung | Bengkulu | Jambi | Lampung | North Sumatera | Riau | Riau Island | South Sumatera | West Sumatera

    Java

    Banten | Central Java | DI Yogyakarta | DKI Jakarta | East Java | West Java

    Kalimantan

    Central Kalimantan | East Kalimantan | South Kalimantan | West Kalimantan

    Sulawesi

    Central Sulawesi | North Sulawesi | South Sulawesi | South East Sulawesi | West Sulawesi | Gorontalo

    Bali NTB NTT Maluku

    Bali | NTB | NTT | Maluku | North Maluku

    Papua

    Papua | East Papua

  • INTERNATIONAL

    Asian

    Japan

  • SCRIBBLE

    My Thoughs

    Inspiration | Recommendation | Tips

FOODISM

  • INDONESIA

    Sumatera

    Nangroe Aceh Darussalam | Bangka Belitung | Bengkulu | Jambi | Lampung | North Sumatera | Riau | Riau Island | South Sumatera | West Sumatera

    Java

    Banten | Central Java | DI Yogyakarta | DKI Jakarta | East Java | West Java

    Kalimantan

    Central Kalimantan | East Kalimantan | South Kalimantan | West Kalimantan

    Sulawesi

    Central Sulawesi | North Sulawesi | South Sulawesi | South East Sulawesi | West Sulawesi | Gorontalo

    Bali NTB NTT Maluku

    Bali | NTB | NTT | Maluku | North Maluku

    Papua

    Papua | East Papua

  • INTERNATIONAL

    ASIAN

    Japan

  • FOOD CATEGORY

    Categorized by

    Breakfast | Lunch | Dinner | Desserts | Junkfood | Asian | Western