• Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Selasa, 25 Juni 2013

"Sebotol kecil Pasir dari Mahameru"

Apa yang mendorongmu untuk melakukan travelling?
 Mencari pengalaman baru?
 Menikmati sebuah pemandangan yang tiada biasa?
 Sekedar mengisi waktu kosong?
Atau mencari momen di mana adrenalinmu bisa dipacu maksimal?


Picture by Gilang Aria Seta

Buat saya, semua jawaban di atas benar, selama kita punya jawaban atas setiap pertanyaan tersebut.
Dan itulah yang juga saya rasakan ketika melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Semeru. Menantang pengalaman baru di medan yang belum pernah saya jejaki sebelumnya. Satu hal yang selalu diingatkan oleh teman saya, Gilang, pada hari-hari persiapan,


 "banyak-banyak lari, vie, latihan cardio, biar badannya siap" 


Persiapan fisik yang matang (bukan kuat #noted) nampaknya merupakan syarat wajib buat para pendaki gunung. Bagaimana tidak, bayangkan kita mendaki gunung dalam keadaan sakit, baru jalan puluhan menit, keliyengan, bahkan bisa pingsan. Kita sendirilah yang seharusnya sadar dengan fisik kita, dan batasan yang kita miliki.

"Kalau bicara kesadaran diri, berarti kita yang ngerasa lemah ini ga akan pernah bisa naek gunung? T_T " SALAH BESAR. Merasa lemah bukan berarti fisik kita lemah (#noted). Meyakini diri kita lemah, maka akan melemahkan pula fisik kita. Dan sebaliknya, meyakini kalau diri kita kuat, maka akan menguatkan diri kita pula. Itulah salah satu pengalaman yang saya rasakan dalam perjalanan mendaki Gunung Semeru. 


 "KEKUATAN MENTAL" 

adalah kekuatan mental, sebuah formulasi mimpi, semangat, keyakinan, dan kemauan. Adalah kekuatan mental pula, yang tetap membuat saya mendaki menuju Mahameru dalam keadaan cedera otot kaki. Cedera otot kaki? Ya, sebuah kecelakaan lucu yang terjadi pada pendaki gunung pemula ini, salah dalam langkah ketika mengambil ancang-ancang memanggul backpack yang berukuran 75 liter. Alhasil otot kaki di antara betis dan lutut saya mengalami cedera. Tidak terlalu berat, namun cukup membuat saya lebih cepat lelah menahan rasa yang ditimbulkan. Di saat seperti itu, saya ingat Randu berujar, 

"Kalau udah mendaki gunung itu, udah bukan bicara fisik, vie, Mental. Cewek pun kalau mentalnya sudah kuat, mendaki gunung mah gampangg. Cowok juga bisa kalah.." 


Saat poto ini diambil, kupikir langkahku selesai di Kalimati
Adalah luar biasa teman saya, Randu dan Gilang, begitu sampai Kalimati, Jumat dini hari mereka melanjutkan pendakian ke Mahameru. Saya dan teman saya, Brian, tidaklah sanggup untuk ikut serta, terutama dengan kondisi kaki saya, kalaupun ikut, yang ada menjadi pengganjal perjalanan mereka. Tengah malam itu saya merasa sangat sedih, karena saya sadar, saya tidak mampu "muncak" dalam keadaan seperti ini. Rencana kami, Jumat siang ini kami akan turun dari Kalimati dan melanjutkan perjalanan pulang. 

Saya yang sudah berpikir kami akan turun Jumat itu, akhirnya mengisi pagi hari di Jumat itu dengan mengambil air di Sumbermani, sarapan dan tidur-tidur siang. Sempat kuberpikir kalau pendakianku ini adalah sebuah perbuatan sia-sia. Namun kutampik kembali hal tersebut, kuingat kembali bahwa sejauh yang saya alami, banyak keindahan ciptaanNya yang tiada habis dapat kita syukuri di setiap perjalanan ini. Sampai satu waktu, setelah kepulangan dari perjalanan nekat Randu dan Gilang, Brian berkata, 

"Kayaknya gue mau muncak deh malem ini, nanggung juga, udah sampai sini. Kalau kalian mau turun, duluan aja. Nanti gue nyusul aja."
  
Hal ini akhirnya menjadi wacana rombongan kami, sayup-sayup di antara tidur siangku, akhirnya kudengar diskusi tersebut, lalu saya terlibat, sampai akhirnya,  kalimat-kalimat "lucu" dari teman-teman pun bermunculan, 


"Ayo, vie, muncak, udah sampai di Kalimati, udah ketinggalan kereta dan sampe bela-belain naek pesawat ke sini, masa ga ke Puncak?"  

"Masa kalah sama cewek, vie? Tuh lihat rombongan itu, ceweknya juga ada yang muncak!"  

"Sekali seumur hidup, vie, belum tentu ada waktu lagi ke sini lagii~" 

akhirnya saya memutuskan untuk mendaki ke puncak Mahameru. Dengan persiapan yang matang, sebagian besar peralatan berat pendakian kami simpan di tempat berkemah, Kalimati. Dengan berbekal air minum 2 liter dalam blader berselang, jaket tebal, dan celana double training+kargo, sarung tangan, kupluk hangat, makanan-makanan yang cepat terserap tubuh, seperti madu dan biskuit, dan tongkat kayu, akhirnya pada pukul 22.00 WIB kami berangkat untuk menaklukan puncak Mahameru, melewati Arcopodo terlebih dahulu. 

Kalau orang bilang di daerah Arcopodo ada dua arca, kami tidak menemukannya. Salah dua alasannya adalah, mungkin karena bukan arca tersebut yang menjadi tujuan kami dan kedua, kondisi malam hari. Sehingga, untuk dapat melihat perbedaan antara tanjakan dan tepian tanah, dengan petak jalan yang hanya cukup untuk satu orang saja, saya sudah bersyukur. Untungnya dengan keberangkatan kami yang "cukup pagi", kami tidak harus berjalan mengantri berdesakkan dengan banyak orang. Tapi bukan berarti kami dapat mendaki santai. Penetapan waktu 5-10 menit jalan, 2-3 menit istirahat, adalah ritme yang kami tentukan dalam pendakian ini. 

Perjalanan yang lebih menantang pun dimulai dari batas akhir Arcopodo, titik terakhir wilayah vegetasi, berganti dengan tanjakan gunung berhiaskan pasir dan bebatuan. Pendakian dengan sudut sekitar 60% itu bukanlah hal mudah, rasa sakit di daerah hamstring tendon yang selalu menggigit acapkali saya mengangkat kaki kanan melebihi perut saat melangkah naik, menjadi sebuah ketakutan di dalam diri saya,  


"Cedera kaki ini mungkin akan bertambah parah"  

Teman saya yang tadinya berjalan dengan tegap pun berubah-ubah posisi dari berdiri, membungkuk, merangkak, sampai merayap, karena kondisi fisik yang lelah dan terjalnya bukit pasir. Adalah dengan mencukupkan istirahat dan mengonsumsi makanan minuman yang cukup yang kami lakukan untuk menghadapi hal ini. Beberapa pendaki baru pun menyusul kami, setiap berpapasan dengan mereka, rasa lelah yang sama-sama kami rasakan mungkin membuat suasana terasa dekat dengan mereka, senyum dan sapa selalu terjulur manis dari mulut ini. 

Rasa lelah yang berakumulasi dalam diri saya akhirnya kian terasa. Waktu pendakian yang semula 4-5 menit, kini hanya 3-4 langkah. Satu hal yang selalu saya ingat adalah perkataan Gilang selepas pendakiannya di malam sebelumnya,  


"Kalaupun istirahat, jangan tidur, vie, kalau tidur, nanti jadi males naik gunungnya" 

Masa sih? padahal kalau tidur badan kita bisa lebih bugar lagi. Benar, tapi itu seandainya kondisi tempatnya tepat, bukan di medan seperti bukit pasir Semeru ini. Saya hanya bisa menerka, tidurnya kita di perjuangan seperti itu, akan membuat api semangat kita padam.  

Di titik tersebut, saya mengingat kembali niat dan tujuan saya, semua pengorbanan yang sudah saya lakukan, teman-teman saya yang sejauh ini sudah men-support saya dalam perjalanan ini, dan besarnya bantuan Tuhan dengan memberikan cahaya bulan purnama yang luar biasa terang. Tidak ada lagi kekuatan motivasi yang lebih besar dari apa yang saya rasakan malam itu, semangatku berkobar kembali, seakan menambah pundi tenaga yang ada di tubuhku. Setiap satu langkah yang saya lalui, seribu potret imaji motivasi berseliweran di hadapanku, membuatku tetap bertahan. Terlebih ketika kumelihat kibasan cahaya lampu dari teman pendaki yang sudah terlebih dahulu sampai di puncak di tepi puncak, sempat kukira itu adalah bintang, namun karena dia bergerak, segera kusadari itu adalah gerakan lambaian tangan seseorang. 


MELANGKAH ... DAN TERUS MELANGKAH NAIK ...  

Pasir batu seakan tiada mampu membendung keinginanku. 
Terkadang ku terseret turun karena pijakan yang tidak stabil 
Namun tiada rasa menyerah yang kurasa, tetap kumelangkah naik  

Bergantinya bukit pasir menjadi barisan mayoritas batu besar, menandakan pendakianku sudah hampir mencapai tujuan. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Saya yang juga mengejar terbitnya matahari pagi pun merasa mulai takut tidak terkejar. Jalan ke atas semakin sulit, semakin terjal.  

jarak 100 meter ke atas, tidak sama dengan 100 meter berjalan di daratan. 


"BENTAR LAGI PUNCAK!" adalah sebuah kalimat layaknya pedang bermata dua.

Di satu sisi dia mampu mengeluarkan tenaga yang tersembunyi, di sisi lain, setelah menempuh beberapa langkah, ekspektasimu akan dihadapkan kepada sebuah pemikiran lain, 


"TERNYATA MASIH JAUH, GAK SEDEKAT ITU, TAPI GUE SUDAH CAPEK.." 

Yakinlah, dan terus melangkah maju  
Yakinlah, dan tetap berpikir positif dan optimis  
Yakinlah, dan tetap atur ritme langkah dan istiratmu  
Yakinlah, dan percayalah kamu akan berhasil 

Saya di Puncak Mahameru

 Video pemandangan pagi di Puncak Mahameru yang saya ambil :


Pukul 5 pagi hari, akhirnya saya berhasil mencapai Puncak Mahameru. Sebuah pemandangan lanskap dataran pasir batu luas kini hadir menggantikan bukit pasir yang menemaniku selama 5 jam perjalanan. Sensasi luar biasa itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, langsung saya bersujud syukur, itulah satu-satunya ekspresi rasa yang bisa menggambarkan kebahagiaan pada saat itu. Pelan-pelan saya mulai melangkah maju, mendekati khalayak yang sudah terlebih dahulu sampai. Mereka berfoto, bersenda gurau, sambil menunggu sang fajar tampil di ufuk sebelah timur. Menggunakan pakaian yang super tebal, jaket inner dan outer JackWofskin serta balutan kafayeh bermotif kotak biru putih, ternyata tidak sanggup menahan dinginnya udara dan pelukan angin kencang di puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Hal pertama yang disadari dan pusingkan adalah ketika saya tidak mengetahui ke mana arah kiblat untuk melaksanakan Sholat Shubuh, karena saya pun tidak menggunakan jam tangan yang berkompas, sehingga saya harus menanyakan orang-orang terlebih dahulu untuk memastikan hal tersebut. Hamparan lukisan Tuhan mulai dari langit pagi yang cerah, munculnya matahari pagi, serta barisan gunung mampu membuat kita terlena untuk bertahan lebih lama di atas sana.

Pukul 7 pagi, sesudah melakukan potret-potret ringan dan rekaman video untuk dokumentasi, serta mengambil sedikit pasir sebagai kenang-kenangan, akhirnya kami turun dari Mahameru. Perjalanan luar biasa ini belumlah usai, kita masih harus menempuh perjalanan pulang yang tidak sebentar. Mari kencangkan tali tas carrier, cukupkan menghimpun energi dari makanan, dan kembali menguji fisik dan mental kita, untuk kembali ke kehidupan hari-hari kita, menceritakan sedikit cerita yang memesona ini lewat sebotol kecil pasir dari Puncak Mahameru.


Kenangan bersama rekan-rekan tangguh para pendaki gunung
Picture by Rudy Nugroho

Reblogged from Backpacker Koprol (dengan penyesuaian)

4 komentar:

  1. aaaaaakkk kapan bisa kesini ya Allah... :(

    BalasHapus
  2. Belom pernah ke semeru, mau latihan fisik sama mental dulu deh :D *gak bisa nekaad soalnya* :)

    BalasHapus
  3. wah..selamat-selamat mas bisa mencapai puncak dan kembali lagi di kehidupan normal dengan sehat wal afiat. iya...ngos2an banget naik ke puncaknya blm lagi badan yg selalu jatuh merosot. butuh teekad dan tenaga yg kuat. btw itu bekalnya di tulisan: makanan-makanan yang cepat terserap tubuh, seperti madu dan biskuit, dan tongkat kayu,.. tongkat kayunya dimakan juga? haha. Salam kenal

    BalasHapus

REPORTS

Know more about my adventures


TRAVELING

  • INDONESIA

    Sumatera

    Nangroe Aceh Darussalam | Bangka Belitung | Bengkulu | Jambi | Lampung | North Sumatera | Riau | Riau Island | South Sumatera | West Sumatera

    Java

    Banten | Central Java | DI Yogyakarta | DKI Jakarta | East Java | West Java

    Kalimantan

    Central Kalimantan | East Kalimantan | South Kalimantan | West Kalimantan

    Sulawesi

    Central Sulawesi | North Sulawesi | South Sulawesi | South East Sulawesi | West Sulawesi | Gorontalo

    Bali NTB NTT Maluku

    Bali | NTB | NTT | Maluku | North Maluku

    Papua

    Papua | East Papua

  • INTERNATIONAL

    Asian

    Japan

  • SCRIBBLE

    My Thoughs

    Inspiration | Recommendation | Tips

FOODISM

  • INDONESIA

    Sumatera

    Nangroe Aceh Darussalam | Bangka Belitung | Bengkulu | Jambi | Lampung | North Sumatera | Riau | Riau Island | South Sumatera | West Sumatera

    Java

    Banten | Central Java | DI Yogyakarta | DKI Jakarta | East Java | West Java

    Kalimantan

    Central Kalimantan | East Kalimantan | South Kalimantan | West Kalimantan

    Sulawesi

    Central Sulawesi | North Sulawesi | South Sulawesi | South East Sulawesi | West Sulawesi | Gorontalo

    Bali NTB NTT Maluku

    Bali | NTB | NTT | Maluku | North Maluku

    Papua

    Papua | East Papua

  • INTERNATIONAL

    ASIAN

    Japan

  • FOOD CATEGORY

    Categorized by

    Breakfast | Lunch | Dinner | Desserts | Junkfood | Asian | Western