• Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Minggu, 21 Juli 2013

Semeru dan Mimpi Backpacker Pemula



Per bulan September 2012, gue berikrar, setelah turun muncak dari Gunung Semeru (ceilah..) gue akan selalu berusaha, minimal, satu kali dalam satu bulan, gue akan jalan-jalan, di manapun itu, kemana pun. Jadi sekarang, biar gue cuma bisa cerita soal wc umum di Karang Taraje atau maen doang ke kompleks Bandung Tempo Dulu di Kota Baru Parahyangan, gue udah seneng, karena gue punya cerita baru, punya pengalaman baru.



Buat yang bertanya ini maksudnya apa, paragraf di atas adalah ikrar janji yang gue sematkan di dalam diri bahwa sebulan sekali gue harus jalan dengan konsisten. Lo bisa cek kebenarannya di tulisan gue “Backpacker Auditor, Sebuah Pengantar”. Lalu apa yang menjadi alasan sampai akhirnya gue membuat ikrar janji seperti itu? Yang pasti bukan gegara gue ditolak cewek yang gue taksir dan traveling jadi jalan pelarian gue buat ngilangin sakitnya hati. Bukan.

Sebagai karyawan kantoran, pergi berlibur adalah satu bentuk acara yang pastinya dinantikan. Green Canyon adalah mimpi yang gue idamkan sejak tahun 2011. Gue sampe bikin riset internet segala tentang segala informasi destinasi tersebut. Dan di pertengahan tahun 2012, gue menemukan “promo” jalan-jalan ke Green Canyon seharga 500-an. Gue seneng banget. Mimpi gue akhirnya tiba di depan mata. Gue yang gelap mata kala itu langsung mengajak temen-temen gue;  dari temen kantor, kuliah, sekolahan, tetangga, gue jabanin semua. Namun apa daya, gayung tak bersambut baik. Dari sekian banyak orang yang gue ajak, cuma 3-4 orang yang mau, itu pun tanpa kepastian. Mimpi gue batal. Gue hancur kala mengetahui impian gue harus pupus sebelum dimulai *pukpuknya mana pukpuknya?! 

Sore hari di 13 Agustus 2012, message dari salah satu teman SD gue yang sudah lama gak bersua, muncul mendadak di facebook. Gue diajak ke Semeru. Mendadak, spontan, tanpa basa-basi. Dan setelah melakukan diskusi singkat to the point selama kurang dari 30 menit, gue meng-OK-kan untuk ikutan. Gue yang gak punya pengalaman trekking, gak tahu Semeru kayak apa, gak baca 5 cm, gak tahu harus bawa apa aja, gak tahu besok masih hidup atau gak, gue gak peduli. Sinting? Kagak, mikir pendek iya. Pikiran gue cuma satu, gue pengen jalan-jalan, gue mau cuti, gue mau move on dari patah hati yang gue alamin kemarin. 

 
Percakapan singkat di message Facebook

Kami terus berkomunikasi intens melalui media online. Sesekali via handphone. Gue pun terus mengumpulkan informasi mengenai barang apa yang perlu dibawa, apa yang perlu dibeli, dan segala perintilannya. Selang beberapa waktu, tanggal yang dijanjikan akhirnya diputuskan, 28 Agustus – 2 September 2012. Gue bergegas mengurus cuti. Mumpung masih belum peak season, mengambil cuti bukan menjadi perkara yang sulit.

Sore hari di 28 Agustus 2012, jadwal keberangkatan gue ke Malang dari Stasiun Bandung. Lo udah pernah nonton 5 cm? Buat yang udah nonton, pasti inget dong kalau ada adegan Ian lari-lari di stasiun Senen karena hampir ketinggalan kereta? Menonton scene itu di bioskop, bikin gue nyesek. Karena gue merasakan hal yang sama tapi dengan nasib yang berbeda, gue BENERAN ketinggalan kereta. Gue salah liat jam keberangkatan. 15:30 dikira 15:45. Gue saat itu mengejar kereta dengan mulut mengunyah katsu Hokben, sekuat tenaga berlari kayak bocah yang dikejar anjing rabies, ngenes. Satpam dan karyawan KAI gak bisa kasih harapan apa-apa, gak mungkin gue menyusul kereta dari jalur transportasi mobil yang macetnya gak nahan. Ngenes lagi.

15:30 bukan 15:45, piee

Shubuh di 29 Agustus 2012, Bandara Soekarno Hatta. Ngapain? Kebodohan yang bikin gue gagal naik kereta kemarin gak menyulutkan usaha gue ke Malang. Selepas gagal di stasiun, gue mencoba ke Bandara Husein Bandung. Sayangnya gue tiba pukul 4 sore, penerbangan terakhir ke Malang saat itu udah boarding. Gak mungkin banget gue maksa naik. Malu pulang ke rumah, gue memilih untuk menumpang tidur, biar cuma tidur di karpet sepupu ruang tamu temen gue, yang juga jadi saksi hidup ke-ngenes-an gue di stasiun, PM. Dan sempat pula dibantu oleh temen gue, Bernie, untuk mencarikan tiket pesawat ke Surabaya atau Malang secara online. Akhirnya dari sekian banyak pilihan, (alm) Batavia Air akhirnya menjadi pilihan. Gue dapat penerbangan jam 6 pagi esok hari ke Surabaya, total Rp 388.900. Big thanks to them! Sumpah kalau gak ada mereka, mungkin gue udah jadi butiran debu.

Itenerary (alm) Batavia Air

Pertama kalinya menggunakan maskapai selain Garuda (biasanya terbang dibiayai kantor) bikin hati gue gelisah. Tapi gue pasrah dan doa aja sama Allah. Toh gak ada berita miring soal (alm) Batavia Air kala itu. Alhamdulillah, penerbangan gue lancar. Sesampai di Surabaya, gue segera menyambung bus PATAS ke Malang, ongkosnya Rp 20.000 saat itu. Saat itu juga untuk pertama kalinya gue mandi di WC Umum, di terminal bus Surabaya. 

Pertemuan dengan rombongan gue di stasiun Gubeng dihiasi oleh suara tawa riuh, you know lah kenapa. Dari Gubeng, kami menumpang angkot yang biasa mengangkut ke Tumpang, Rp 7.000/orang. Siang hari agak susah mencari mobil jeep yang mau membawa ke Ranu Pane. Tapi Alhamdulillah, kami berhasil mendapatkannya. Sekitar pukul lima sore akhirnya kami sampai di sana. Tak lupa kami sempat berhenti sesaat di tengah jalan, atas saran dari abang driver kami, untuk menikmati pemandangan Bromo yang luar biasa.


Dari Ranu Pane, rombongan kami yang berjumlah tujuh orang memulai langkah pendakian pukul delapan malam; Gue, Gilang, Randu, Brian, Mas Toton, Riki, dan Reindra. Gue berada di tengah-tengah rombongan. Dari semua yang ada, bisa dikatakan gue lah orang yang pertama kalinya mendaki gunung kala itu. Perlengkapan lengkap: Keril 75 liter di punggung, dua jaket inner-outer digunakan untuk menghilangkan hawa dingin, dan sepatu gunung yang masih keset digunakan karena umurnya yang belum ada sebulan. Perjalanan gelap itu dilakukan dengan hati-hati. Bekal headlamp hasil sewaan berfungsi normal, tiada masalah. Untuk menghindari kelelahan berlebih, kami mengatur tempo, 5-8 menit berjalan, 2-3 menit istirahat. Suasana gelap dan jalanan yang terjal ternyata sanggup gue jabani. Pukul dua pagi esok hari, kita mendarat di Ranu Kumbolo. Lelah yang kami alami kala itu membuat kami membangun tenda di tempat nge-camp yang tidak seharusnya.


30 Agustus 2012, bangun di waktu Shubuh adalah tantangan yang luar biasa. Bangun pagi sambil menggigil, suara gemeretak gigi menjadi lagu, bulir-bulir es sudah menghiasi tenda kami pagi itu, dan kabut putih menjalar di atas danau, menyeramkan. Mengambil air danau untuk sholat pun gue gak berani. Dingin. BANGET. Gilang berkata suhu pagi saat itu mungkin mencapai -7°C.  

Setelah menyantap sarapan, siang harinya kami melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Satu lagi hal yang gue gak sadari di malam sebelumnya, ternyata kaki gue bermasalah. Untuk berjalan terasa sakit ketika mengayun kaki. Gue menduga hal ini diakibatkan karena gue melakukan kesalahan saat mengangkut keril dari tanah ke punggung via paha sebagai penahan (kebayang?) ketika gue beristirahat singkat. Gue laporan kepada teman-teman dan berusaha untuk meneruskan perjalanan biarpun harus mengeluh manja.


Sedikit cerita tentang Tanjakan Cinta: sebelum naik, gue diceritakan mitos tanjakan tersebut sama Gilang. Gue cuma menggangguk paham. Menaiki tanjakan dengan mengharap cinta seorang wanita tanpa menengok ke belakang. Baiklah. Tapi belum ada sepuluh langkah gue ambil dari titik start Tanjakan Cinta, gue udah dipanggil sama dia, “Pie.. Pie.. tas lo tuh”. Spontan gue menengok, “kenapee??” dan suara tawa kembali terlepas. “Wkwkwk! Sini lo, mulai lagi dari bawah!”, gue tersungut, gue dikadalin, “Ah, males, lanjut aja”  kemudian gue lanjut naik sambil tersengal-sengal.

Dalam sisa perjalanan gue selalu berusaha berjalan dan mengambil istirahat lebih duluan dari teman-teman rombongan. Bukan gue egois, tapi gue yang jalannya “terpincang-pincang” ini pastinya akan mudah disusul oleh mereka yang punya kondisi lebih prima. Dengan bergerak lebih dulu, gue bisa mengambil waktu istirahat yang lebih banyak di poin perhentian berikutnya, dan gue gak harus merepotkan rombongan karena harus menunggu gue istirahat lebih lama di poin tersebut (ngerti gak maksud kalimat gue ini?). Pukul lima sore akhirnya kami sampai di Kalimati. Randu yang sudah sampai terlebih dahulu sudah duduk-duduk lucu di tempat yang akan kami jadikan camp malam itu. 



31 Agustus 2012. Pukul 2 pagi, Randu dan Gilang berencana muncak. Gue yang kala itu bermalam bersama mereka berdua, mengurungkan diri untuk naik. Gue mencoba bangun, menggerak-gerakkan lutut kanan yang sakit, dan akhirnya memutuskan untuk tidak ikut. Gue gak mau jadi penghalang dan beban bagi temen-temen gue. Gue gak mau mati konyol karena keabisan tenaga gara-gara langsung muncak ke Semeru. Tengah malam itu gue sedih. Karena gue sadar, gue gak mampu "muncak" dalam keadaan seperti ini.

Di momen itu gue cuma bisa meratapi nasib. Perjalanan pertama gue akan berakhir gak maksimal. Gue yang nubie ini ngerasa bodoh karena kurangnya persiapan ilmu pendakian. Gue menyesali kejadian yang menimpa diri gue. Pagi-pagi sehabis BAB, gue kebanyakan merenung. Mungkinkan perjalanan gue ini adalah perjalanan sia-sia? Segera gue tampik, "Ah, gak lah. Gue ke sini menikmati pemandangan yang disuguhkan Tuhan, gue harus bersyukur!"

Pukul 9 pagi, Randu dan Gilang pulang dengan muka lelah dan tampang super belel. Gue melihat mereka dengan bengong, “segitu capeknya ya?”. Kami mengobrol, gue bertanya antusias dengan perjalanan yang mereka alami. Mereka yang nyaris nekad karena hanya membawa air minum hanya 1 liter untuk berdua sempat menjadi fakir minum di atas sana. Meminta kebaikan hati kepada pendaki lainnya. 

Selepas bangun tidur siang, Brian berkata, 

"Kayaknya gw mau muncak deh malem ini, nanggung juga, udah sampai sini. Kalau kalian mau turun, duluan aja. Nanti gw nyusul aja." 

Hal ini akhirnya menjadi wacana rombongan kami, dan gue pun ikutan terlibat sama percakapan tersebut. Sampai akhirnya,  kalimat-kalimat "lucu" dari teman-teman pun bermunculan,


"Ayo, vie, muncak, udah sampai di Kalimati, udah ketinggalan kereta dan sampe bela-belain naek pesawat ke sini, masa ga ke Puncak?"  
"Masa kalah sama cewek, vie? Tuh lihat rombongan itu, ceweknya juga ada yang muncak!"  
"Sekali seumur hidup, vie, belum tentu ada waktu lagi ke sini lagii~" 



 “BAIKLAHHH!!! Kalau kalian memaksa!”


Lalu bagaimana kelanjutan ceritanya? Muehehehee…


Kalian bisa tengok lanjutan perjalanan heroik gue di tulisan ini, 


Dari pengalaman pendakian yang gue jalanin itu, gue jadi sadar, kalau gue gak bisa bergantung sama orang lain. Gue harus mulai, gue harus jalan sendiri. Gue harus yakin kalau gue mau melangkah ke arah yang gue yakini, orang-orang dengan visi misi yang sama akan bergerak mendekat dan akhirnya menjadi orang-orang yang bisa lo rangkul bersama.

Berfoto bersama orang-orang hebat
Dan dari keyakinan itu pula, gue bertemu orang-orang hebat, dan akhirnya mendirikan komunitas Backpacker Koprol. Sebuah komunitas yang ingin menjadikan jalan-jalan gak hanya jalan-jalan semata, tapi juga memberikan nilai positif bagi lingkungan dan pesertanya.

Membangun kegiatan positif dengan MTTP
Sempat muncul di Media Indonesia


Ini bukanlah titik akhir, ini titik permulaan! Perjalanan gue masih panjang untuk menjelajahi tanah air Indonesia. Gue harus bersabar dan bermain cantik dengan semua mimpi yang gue miliki. Kenapa? Karena status gue masih karyawan kantor yang masih harus masuk kantor tiap Senin sampai Jumat. Menyedihkan? Enggak, gue menikmati. Dan gue yakin kalau kalian menikmati hal ini, kalian akan merasakan kenikmatan seperti yang gue rasain, bahkan lebih.


Gak percaya? Cobain deh…

28 komentar:

  1. mauuuuuuuuuuuuuu dun ke mahameru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mangga atuh. cobain pergi ke semeru. jangan pake modal nekat doang tapi ya. haha

      Hapus
  2. Balasan
    1. thank you. semoga menginspirasi ya :)

      Hapus
  3. ayeee... aku juga 2 kali ke Semeru demi membayar hutang tak bisa muncak bro. 1994 gagal, 1995 remidi :D

    Mahameru dan Ranu Kumbolo memang luar biasaaaa...

    Lewat Ayak-ayak juga bro? wuiii mantep mah yg itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh, gagah banget sampai dua kali muncak.
      saya memang hampir tidak jadi muncak (cerita di tempat terpisah) dan sekarang masih belum menemukan alasan yang cukup banyak untuk kembali ke sana

      enggak, kita lewat jalur biasa, gak lewat jalur ekstrim, *gak merasa melewati tempat yang bernama bukit teletubbies haha

      Hapus
  4. blogwalking :)
    waahhh...jadi pengen k semeru...semoga mimpi ini suatu saatjadi kenyataan juga kayak masnya..udah lama ngidam k semeru(sebelum ada 5cm) ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin YRA. Saya doakan semoga lancar dan titip kelestarian alam di sana ya.

      Dulu saya ke sini gak mimpi apa-apa. Cuma pengen cuti, thok. Kebetulan rejekinya ke sini. Dari 7 orang teman perjalanan, di awal cuma kenal Gilang. Yang lainnya menyusul. Tapi gak papa, daripada kecewa kemudian gegara takut? Malahan sekarang bareng sama Randu bikin komunitas Backpacker Koprol :D

      Hapus
  5. Ah makasih vie udah ngatain gue hebat *eh buat gue bukan itu hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, emak-emak yang demen bawa anaknya juga traveling, hahahaha

      Hapus
  6. hahahha nih aku komen yah alpi...
    bagus ceritanyah tapi aku bingung,, itu temen alpi sms october 2012 tapi alpi berangkat agustus? ga ngerti hahahha
    trusss soal ketinggalan kereta,, i feel u pi,, baru ajah may kemaren ngetrip ditinggal kereta,, #pfffft
    anyway,, keep writing,, tumben postingannya cepet nihhh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. muahaha, thankyou informasinya.
      seharusnya 13 Agustus itu, bukan Oktober *sudah kuralat

      Iyaa, tulisan ini dibuat "kilat" untuk ikutan kompetisi blog #1stStep #NubieTraveler nya @travellerID
      Tadinya mau ngikutin tulisan "BackpackerAuditor, Sebuah Pengantar" tapi karena harus baru, jadi tulis lagi.

      Semoga tulisan ini gak kalah menginspirasi dari tulisan yang satu itu, hehehe

      Hapus
  7. pengalaman ente keren banget bang,, suer deh bener-bener menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. keren karena jatuh bangun ya, haha

      tapi bener sih, itu yang namanya melewati pendakian akhir menuju puncak mahameru, naik ke atas sambil mengais-ngais pasir ditemani sinar dari bulan penuh. Kenikmatan yang diperoleh ketika sampai "daratan" ketika berhasil sampai puncak dan mendadak sujud syukur. luar biasa

      ^ ini sih bukan meng-inspirasi, tapi bikin mupeng, haha

      Hapus
  8. mantap, semoga gw bisa menyusul deh kesana, pengen bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Aamiin..

      Ditunggu ceritanya. Semoga tercapai.
      Dan tetep menjaga kelestarian alam dengan membawa pulang sampah "Non-biodegradable" yang tidak bisa diurai oleh proses biologi nya

      Hapus
  9. sip sip, makin rame aja nih semeru, makin berdaya tarik, moga yang summit tau aturan alam, dan menjadi pecinta alam yang juga ikut berpartisipasi membersihkan, minimal menjaga dari tangan-tangan usil manusia. jadi pengen kesana lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Comment yang perlu diperhatikan. Bener banget:

      "menjadi pecinta alam yang juga ikut berpartisipasi membersihkan"

      Aamiin!

      Hapus
  10. Really cool mas! Sukses buat backpacker koprolnya. I'll join soon!

    Visit mine: jalanpendaki.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ada tukang mendaki gunung! haha
      hayu mari kita jalan bareng2 :D

      Hapus
  11. mau kesemeru juga kapan - kapan, ga sampe puncak endak apa, mau bawa plastik, terus turun bawa sampah :) katanya sekarang area semeru makin kotor ya :( padahal belom sampe sana loh saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes, banyak sampah. sedih. miris. semoga para pendaki gak cuma mikir poto narsis tapi juga kelestarian lingkungan

      biar jadi oleh2 buat anak cucu kita nantinya :')

      Hapus
  12. Mimpi aku jadi backpacker ka, yang pertama pengen aku taklukin itu puncak semeru, tapi aku masih SMA kelas 3 jadi belom bisaaa, bisa gabung di komunitasnya kan? Hehe

    BalasHapus
  13. oh lw anak E* yah....lw masuk kayaknya sama ama gw tahun 2010, cuma gw dah gak hiking lagi sejak terakhir tahun 2001. Gak sempet dan bos gw galak. gw salut ama lw bs atur waktu, gw paling kalo ke luar kota nyulik supir buat jalan ke tempat yg aneh dan biasanya gw ditaro di remote area, dan gw bersyukur atas itu bahwa hidup gak sekecil ruang boot di lantai 7....hahahaha

    BalasHapus
  14. Waduh racun iki mas... pengen ke semeru jadine... ;D

    BalasHapus
  15. Life is a journey not a destination,tetap berpetualang bro,tetap bahagia, Gbu

    BalasHapus
  16. Life is a journey not a destination,tetap berpetualang bro,tetap bahagia, Gbu

    BalasHapus
  17. Omoo. Masih belum kesampean buat muncak di semeru~

    BalasHapus

REPORTS

Know more about my adventures


TRAVELING

  • INDONESIA

    Sumatera

    Nangroe Aceh Darussalam | Bangka Belitung | Bengkulu | Jambi | Lampung | North Sumatera | Riau | Riau Island | South Sumatera | West Sumatera

    Java

    Banten | Central Java | DI Yogyakarta | DKI Jakarta | East Java | West Java

    Kalimantan

    Central Kalimantan | East Kalimantan | South Kalimantan | West Kalimantan

    Sulawesi

    Central Sulawesi | North Sulawesi | South Sulawesi | South East Sulawesi | West Sulawesi | Gorontalo

    Bali NTB NTT Maluku

    Bali | NTB | NTT | Maluku | North Maluku

    Papua

    Papua | East Papua

  • INTERNATIONAL

    Asian

    Japan

  • SCRIBBLE

    My Thoughs

    Inspiration | Recommendation | Tips

FOODISM

  • INDONESIA

    Sumatera

    Nangroe Aceh Darussalam | Bangka Belitung | Bengkulu | Jambi | Lampung | North Sumatera | Riau | Riau Island | South Sumatera | West Sumatera

    Java

    Banten | Central Java | DI Yogyakarta | DKI Jakarta | East Java | West Java

    Kalimantan

    Central Kalimantan | East Kalimantan | South Kalimantan | West Kalimantan

    Sulawesi

    Central Sulawesi | North Sulawesi | South Sulawesi | South East Sulawesi | West Sulawesi | Gorontalo

    Bali NTB NTT Maluku

    Bali | NTB | NTT | Maluku | North Maluku

    Papua

    Papua | East Papua

  • INTERNATIONAL

    ASIAN

    Japan

  • FOOD CATEGORY

    Categorized by

    Breakfast | Lunch | Dinner | Desserts | Junkfood | Asian | Western