• Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Senin, 22 Juli 2013

Surga Di Karang Taraje

Untuk diketahui diawal, ini bukan cerita tentang bagaimana sekumpulan sahabat menemukan pencerahan untuk kembali kepada Tuhan di sebuah pantai berkarang di salah satu obyek wisata daerah Sawarna, Karang Taraje, selayaknya sinetron “Hidayah” yang pernah diputar di tipi-tipi kesayangan anda. Sama sekali bukan.


Taman Wisata Pantai Karang Taraje adalah sebuah obyek wisata yang termasuk ke dalam kompleks wisata Sawarna yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Lokasinya tidak jauh dari Pantai Pulo Manuk, hanya 4 KM (asumsi menggunakan kendaraan bermotor yah, bukan kendaraan berotot alias jalan kaki).

Pemandangan laut yang bagaikan hamparan permadani biru adalah hal pertama yang bisa kita lihat dari kejauhan. Mencoba berjalan mendekat, udara pantai yang khas akan merasuk lembut ke dalam hidung, dinginnya semilir angin seakan menyelimuti panas dari teriknya sinar matahari. Kemudian, pandangan kedua mata ini akan dicuri oleh kumpulan batu-batuan karang dan tanaman hijau di pinggiran pantai, mungkin perasaan takjub dan kecewa akan bercampur aduk saat itu. Takjub dengan apa yang disajikan saat itu, dan kecewa karena kita tidak bisa bermain dan berenang sesukanya, hehe.


Karang Taraje memang bukan sekedar nama. Nama Karang Taraje yang berarti Karang Tangga, adalah karena terdapat karang-karang besar yang "dulunya" (terakhir ke sana udah gak ada) terdapat anak tangga untuk berjalanan melewatinya. Obyek wisata pantai yang masih merupakan sambungan dari Pantai Ciantir dan Tanjung Layar ini memiliki banyak batuan karang di pinggiran pantainya. Aliran air dan ombaknya besar, yang memang menjadi ke-khas-an dari Pantai Selatan. Sehingga, haram hukumnya mencoba berenang atau bermain-main sampai ke tengah pantai di sini buat yang coba nyari iseng. Kalau luka lecet akibat karang buat kita adalah biasa, tapi kalau badan hilang nyawa melayang terbawa arus bukanlah hal yang bisa dikompromikan lagi. 

Lalu, di manakah surga dunia yang saya maksud? Coba tengok gambar di bawah ini!


Hoho, jangan kaget, jangan bengong. Ya, karena memang inilah yang saya maksud dengan surga dunia di Karang Taraje ini, WC UMUM!! 

WC Umum di Karang Taraje adalah barang langka. Ada tiga bangunan wc umum yang terdapat di tempat ini. Namun dua dari tempat tersebut sudah rusak dan dinyatakan tidak dapat beroperasi. Hanya satu unit wc umum yang bersebelahan dengan mushola yang masih dapat dioperasikan. Coba bayangkan kalau kamu tiba-tiba mendapatkan rangsangan HIP (Hasrat Ingin Poop) terus WC Umum di sana ternyata tidak dapat digunakan. Apa yang akan kamu lakukan? *Dalam kondisi normal ya, bukan kayak game simulasi Digimon World di mana peliharaan kamu bisa mpup di mana aja kalau udah gak tahan dan gak ketemu WC Umum.

Berdasarkan informasi dari Pak Ujang, tukang parkir yang ditugaskan berjaga di Karang Taraje oleh Pemda dari Pelabuhan ratu, WC Umum di sini sumber airnya tidak menggunakan sumber air dari pompa jet sumur seperti kebanyakan kamar mandi pada umumnya. Dia menggunakan torrent yang tersambung langsung dari mata air pegunungan. Dan yang menjadi media perantara antara sumber mata air dan WC ini adalah selang sepanjang ±500 meter, yang menjalar dari pohon ke pohon di sekitar sampai mata air pegunungan. 

Sambungan selang menjalar di atas pohon

Jadi kalau misalkan ketika kita membuka kran dan tidak ada air yang mengalir, berarti ada masalah yang terjadi pada selangnya; entah selangnya yang lepas, bocor, terbelit-belit, atau berantakan dimainin sama monyet (Secara sangatlah tidak mungkin, untuk saat ini, kalau mata air gunungnya berhenti mengalir). Nah, kejadian tersebut terjadi sewaktu saya ke sana dan kebelet pipis. Ketika mencoba membuka kran, tidak ada air yang mengalir. Lalu saya melapor kepada Pak Ujang. 

Beliau lalu meminta tolong kepada temannya, saya lupa namanya beliau, sebut saja, "Aki Pendaki Pohon", yang nampaknya juga sudah berumur dan sama-sama berjaga di sana, untuk memanjat ke atas pohon ke tempat di mana selang itu bertengger dan memastikan apakah selangnya bermasalah atau tidak. Saya bengong dan menelan ludah perlahan, "Glek!", ketika mendengar hal tersebut. Yaa, coba saja bayangkan resikonya kalau di umurnya yang sudah melewati setengah abad itu jatuh terpeleset?

Ada informasi yang perlu kalian ketahui tentang obyek wisata yang satu ini, yaitu terdapat tarif masuk untuk mengunjungi obyek wisata ini. Harganya terhitung murah dibandingkan obyek wisata di Sawarna. Cuma Rp 1.000/orang, Rp 3.000/motor, Rp 5.000/sedan, dan paling mahal Rp 20.000 buat bus atau truk.

Tarif tertulis di Pos Jaga *Poto diambil bulan Maret 2013

Tapi pada kenyataannya, dengan harga yang segitu, masih banyak pengunjung yang enggan membayar tiket masuk. Apalagi yang membawa kendaraan pribadi. Hit and go, pathetic. Pak Ujang memang tidak memaksa setiap pengunjung yang datang untuk membayar tarif masuk, dia tidak mau sampai terlibat konflik dengan mereka. Saya bahkan sempat melihat rombongan anak SMA yang baru sepulang sekolah dari Bayah mengendarai sepeda motor masuk begitu saja, dan Pak Ujang hanya meminta mereka mereka untuk berhati-hati bermain di sana DENGAN NADA PERINGATAN YANG SANTUN DIIRINGI SENYUMAN.

Pak Ujang (kiri) dan temannya, Aki Pendaki Pohon (kanan)
Dengan pendapatan yang minim dari pekerjaannya sebagai tukang parkir, Pak Ujang masih tetap dapat tersenyum menjalankan pekerjaannya, tanpa mengeluh biarpun penghasilannya serba pas-pasan. Dia memiliki dua orang anak, anak lelakinya sudah pergi merantau ke Jepang bekerja dalam bidang pelayaran, dan anak perempuannya saat ini sedang menempuh kuliah di Cilegon. Wow, luar biasa! Namun hal yang jauh lebih luar biasa lagi adalah ketika saya mendengar cerita bahwa dia selalu menanamkan semangat untuk berjuang dengan gigih mencapai cita-cita kepada anak-anaknya biarpun dalam kondisi yang susah.

"Tempat itu adalah tempat yang menjadi asal muasal nama Karang Taraje" - Pak Ujang
Kamu bisa temukan base camp nya nelayan lobster di sini
Ada satu cerita menarik lainnya yang saya peroleh ketika mengunjungi karang yang disebut sebagai "Karang Taraje". Setelah melewati tanaman merambat hijau di pinggiran tembok tanah, taburan pasir putih, dan berjalan menaiki "Karang Taraje", saya bertemu dengan sesosok pemuda gagah berkulit coklat hitam yang muncul tiba-tiba dibalik kumpulan ilalang panjang yang menjuntai tinggi. Karena penasaran, saya SKSD (sok kenal sok deket), pengen tahu apa yang dia lakukan di tempat ini. Ternyata dia seorang nelayan lobster. Sebelum bertemu saya, dia sedang merapikan jaring ikan di belakang base camp.

Mereka bisa pergi menebar jaring dengan pergi menggunakan ban (what, only "ban"?!!) ketika pukul lima sore. Bukan hal yang mengherankan kalau arus liar pantai selatan ini bisa mereka taklukin. Secara, udah jadi sarapan sehari-hari. Mereka juga bisa pergi dengan menggunakan perahu, tentunya dengan jaring yang lebih besar lagi. Nah, hasil tangkapan itu biasa mereka ambil di pagi hari. Sebenarnya jadwal pergi menebar jalanya fleksibel. Tapi mereka sudah punya jam-jam tertentu untuk melakukan aksinya tersebut (mungkin maksudnya supaya lebih disiplin ya, berasa kayak kantoran aja!). Hasil tangkapan biasa mereka bawa ke pasar. Di sana ada penadah yang menerima hasil tangkapan mereka, baik lobster besar maupun yang kecil.



Laut yang biru, karang besar yang ciamik, “WC” surga dunia, cerita dari nelayan lobster dan sharing cerita dari Pak Ujang, menjadikan perjalanan wisata saya ke Karang Taraje menjadi sangat berkesan.


*Photo from camera Nissa Nister and Raniyah 
Cerita ini saya tulis juga di Backpacker Koprol

2 komentar:

  1. pantainya keren dengan deburan ombaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. apalagi pemandangan dari puncak tebing di karang besar, luar biasa!

      apa yang ada di poto, aslinya lebih cantik lagi *kita bicara soal poto pemandangan, bukan orangnya, haha

      Hapus

REPORTS

Know more about my adventures


TRAVELING

  • INDONESIA

    Sumatera

    Nangroe Aceh Darussalam | Bangka Belitung | Bengkulu | Jambi | Lampung | North Sumatera | Riau | Riau Island | South Sumatera | West Sumatera

    Java

    Banten | Central Java | DI Yogyakarta | DKI Jakarta | East Java | West Java

    Kalimantan

    Central Kalimantan | East Kalimantan | South Kalimantan | West Kalimantan

    Sulawesi

    Central Sulawesi | North Sulawesi | South Sulawesi | South East Sulawesi | West Sulawesi | Gorontalo

    Bali NTB NTT Maluku

    Bali | NTB | NTT | Maluku | North Maluku

    Papua

    Papua | East Papua

  • INTERNATIONAL

    Asian

    Japan

  • SCRIBBLE

    My Thoughs

    Inspiration | Recommendation | Tips

FOODISM

  • INDONESIA

    Sumatera

    Nangroe Aceh Darussalam | Bangka Belitung | Bengkulu | Jambi | Lampung | North Sumatera | Riau | Riau Island | South Sumatera | West Sumatera

    Java

    Banten | Central Java | DI Yogyakarta | DKI Jakarta | East Java | West Java

    Kalimantan

    Central Kalimantan | East Kalimantan | South Kalimantan | West Kalimantan

    Sulawesi

    Central Sulawesi | North Sulawesi | South Sulawesi | South East Sulawesi | West Sulawesi | Gorontalo

    Bali NTB NTT Maluku

    Bali | NTB | NTT | Maluku | North Maluku

    Papua

    Papua | East Papua

  • INTERNATIONAL

    ASIAN

    Japan

  • FOOD CATEGORY

    Categorized by

    Breakfast | Lunch | Dinner | Desserts | Junkfood | Asian | Western