• Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Kamis, 01 Mei 2014

Bekal Petualang #3 - 7 Transportasi Komuter Serpong

Dan aaaaaaaaakhirnya gue nulis lagi. 
Siapa yang kangen sama tulisan gue? Haha
 
Kalau kemaren-kemaren ditanya, kapan jalan-jalan lagi? Kok gak nulis blog lagi?
Meeeenn, gue sibuk abis di kantor! 
Kerjaan bejibun! 
Dari bulan-bulan terakhir tahun 2013 sampai akhir bulan April 2014 kemaren, gue sibuk. Mau nulis pun gak ada mood. Mau nulis curhat, gak gue banget. Lagipula blog ini didedikasikan untuk bercerita tentang traveling, bukan curhatan hidup. Tapi kalau kalian mau liat beberapa tulisan curhatan gue dan tulisan blog-blog lain  yang menarik perhatian gue sebagai pribadi, bisa ngintip ke sini, “www.idealvie.wordpress.com” (padahal ini satu paragraf kalau bisa disimpulkan adalah curhat ya, haha)

Oke, kita mulai memasuki isi dari postingan blog ini.
 
Per April 2014, gue resmi jadi orang Serpong. Akhirnya gue move on dari kos-kosan di Jakarta Selatan yang berjarak sekitar 10 menit, ke kantor, kalau nebeng jadi joki di mobilnya temen kantor gue. Dan gue yang biasanya menggunakan transportasi umum kopaja, busway, atau taksi (kalau kepepet waktu), kini bergaul dengan tiga transportasi umum lainnya, angkot, ojek dan KRL (Kereta Rel Listrik) untuk sampai kantor. Dan gue pun menyandang gelar baru dalam hidup gue, “Komuter”. 
Tentunya perbedaan waktu tempuh yang signifikan antara 10 menit dari kosan di Jaksel dengan 1 jam lebih dari rumah di Serpong sempet bikin gue galau di awal-awal. Apalagi gue termasuk orang yang males bangun pagi dan berdesak-desakan di transportasi umum dengan manusia-manusia yang dikejer-kejer jam absen di pagi hari. Berdesak-desakan dengan manusia-manusia Jakartan nan survivalist yang gak peduli sama sekitar, “yang penting gue enak”, itu mengerikan, guys. Kalau sampai hal itu pasti terjadi sama kamu, pastikan fisik dan mental kamu sudah siap.
Oleh karena itulah, gue mendedikasikan hidup gue selama bulan April 2014 untuk mencoba semua jenis transportasi umum ke kantor. Dari ojek sampai jalan kaki. Dari taksi sampai kereta. Mencari jenis transporasi yang paling ekonomis, efektif, dan efisien. Dan melalui tulisan ini, gue akan temuan – temuan transportasi yang gue dapatkan sebagai seorang komuter:
1. Naik KRL Commuter Line



Dengan jarak rumah gue yang berkisar ± 4 km dengan stasiun Serpong, maka pilihan bekerja dengan menggunakan KRL adalah pilihan yang paling akan gue andalkan sebagai seorang komuter. Apalagi dengan hadiah kartu Flazz (thanks to Buddy!), sehingga gue gak perlu repot-repot mengantri di loket. Biarpun perlu diakui, kalau waktu scanning kartu Flazz lebih lama dibandingkan kartu tiket KRL.
Kekuarang dari KRL adalah banyaknya massa komuter yang berduyung-duyung di waktu berangkat (sekitar pukul 06.00 – 08.00) dan pulang kerja (sekitar pukul 04.00 – 19.00). Sejatinya, sampai sekarang gue belum pernah berdesak-desakan dengan manusia-manusia komuter di jam tersebut. Karena gue memilih untuk pergi di jam-jam yang cenderung “lebih sepi”, hahaha!!

2. Bercengkrama dengan Ojek

http://www.travelfish.org


Siapa gak kenal ojek? Jenis transportasi beroda dua yang terbukti sangat-sangat efisien. Sayangnya, dia mahal. Apalagi untuk kawasan Jakarta, super sampah. Misalkan dari kosan lama gue di Karet, Jakarta Selatan untuk ke kantor, mereka akan minta di harga Rp 20.000 ke atas. Padahal untuk harga dan jarak tempuh yang sama, atau bahkan Rp 5.000 lebih murah, kita bisa naek taksi yang notabenenya lebih nyaman! Sehingga ada anekdot, kalau ojek di Jakarta itu hanya untuk mereka yang terburu-buru. Akur?
Banyak ojek yang bertengger di kompleks perumahan gue di Serpong. Harga pasaran di sini Rp 10.000 untuk ke stasiun. Lumayan. Dan begitu sampai Stasiun Palmerah, lo bakalan diserbu sama rombongan tukang ojek yang nawarin jasa mereka. Ngetemnya rombongan ojek yang nunggu calon penumpang ini aja sampai makan satu ruas jalan mobil. Cuma, untuk sampai ke kantor dengan jasa mereka, harus nawar di awal, “Rp 10.000 sampai Pintu 5 – Halte Polda, bang!”. Karena kalau gak begitu, mereka akan minta Rp 15.000 atau Rp 20.000 begitu kita sampai dan turun dari motor. Harga yang sama yang bisa kamu dapatkan kalau kamu naik taksi tarif bawah. Dan mereka akan bilang, itu harga standar ngojek sampai tujuan yang kita inginkan. 
Kemudian, dari hasil tanya-tanya dengan para tukang ojek yang saya gunakan jasanya, mereka mengatakan kalau tarif ojek di jam ramai, gak akan ada yang mau lepas harga di bawah Rp 15.000. Oke, kalau semua tukang ojek dari rumah dan stasiun udah mulai minta harga Rp 15.000, maka ini adalah tanda-tanda kalau gue harus punya motor sendiri!

3. Bus Shuttle TransBSD


www.bsdcity.com
 
Bus Shuttle TransBSD adalah bus yang berdedikasi untuk mengantar orang-orang dari BSD sampai Ratu Plaza. Dengan harga tiket Rp 15.000, kita bisa mendapatkan kursi yang nyaman dan AC yang dingin. Tiga kekurangannya buat gue adalah dia jauh dari tempat gue sehingga gue harus ngojek dulu untuk sampai ke sana, dia punya jam sendiri sama kayak kereta untuk berangkat dan cenderung bergantung sama kepadatan jalan, dan terakhir, waktu tempuh yang cenderung hampir dua jam.

4. Taksi, Pilihan paling terakhir

http://sehirmedya.com

Taksi adalah pilihan transportasi umum yang paling nyaman. Mobil ber-AC, pilihan taksi antara tarif bawah dan tarif biru, dan ada argo yang akan menunjukkan jumlah pembayaran yang harus kita bayar dari jarak dan waktu yang kita tempuh. Semua serba jelas. Tapi biasanya pantat mulai gak nyaman kalau kita ketemu dengan jalan super macet dan tujuannya masih jauh. Hidung udah kembang kempis ambil napas, mata udah mulai lirik-lirikan antara argo taksi dan dompet, dan otak udah mulai mikir “Turun di sini aja kali ya”
Dan sebagai auditor, tentunya taksi menjadi pilihan paling akhir, karena kalau gue mau pulang di atas jam satu pagi, maka sudah gak ada lagi yang namanya KRL, tukang ojek, apalagi angkot yang beroperasi. Dan taksi yang operasinya ngalong adalah satu-satunya pilihan yang bisa diambil untuk pulang ke Serpong.  
5. Si Hijau, Angkot Serpong – Kalideres

 
http://otomotif.kompas.com
Mengenal angkot hijau Serpong – Kalideres mencerahkan hidup gue. Tentu saja karena harga mereka yang jauh lebih murah, Rp 3.000, dibandingkan harus membayar ojek Rp 10.000. Dan mengenal jurusan angkot pun menambah wawasan gue tentang Serpong, karena gue juga bisa bepergian ke supermarket “GIANT BSD” atau “Teras Kota” dengan naik kendaraan ini satu kali.
Kekurangan kalau mau naik angkot adalah satu, gue harus jalan dulu 10 menit dari kompleks rumah gue ampai jalan besar tempat angkot-angkot ini lewat. “Kenapa gak naik ojek aja, vie?” Karena kalau naik ojek terus lanjut angkot untuk sampai stasiun, ya mending gue naik ojek aja sampai stasiun, nanggung, harganya juga pasti gak beda jauh. Dan dua, angkot biasanya udah susah ditemui di atas jam 10 malam. Lebih mudah mencari ojek di sekitar pukul 11-12 malam daripada angkot.

6. Saran si Indroo, Sharing Taksi atau Nebeng

 
http://kaskusregionallampung.blogspot.com

 
Satu saran dari temen gue, Indra, adalah nebeng temen, dan bayarin tol. Pilihan yang menurut dia win-win solution karena gue udah dapet tebengan yang nyaman, ber-AC, dan ada temen ngobrol selama perjalanan. Kalau males pun bisa tidur dengan nyaman. 

Jadi bayarin tol si temen yang bawa mobil bukanlah hal yang memberatkan hati dibandingkan segala kenyamanan yang gue terima. Kurangnya dari per-tebeng-an adalah kalau satu waktu tujuan gue dan temen yang gue tebengin gak sama dan waktu pulang yang berbeda.
Satu saran yang lain yang ekonomis adalah sharing taksi. Turun di Palmerah dan cari orang-orang yang bertujuan ke SCBD. 4-5 orang naik taksi ke SCBD kira-kira Rp 20.000, per orang kena Rp 4.000/Rp 5.000, murah! Kurangnya adalah masih bingung mencari orang-orang yang senasib-sepenanggungan untuk tujuan yang sama. Publikasi yang bisa gue lakukan untuk hal ini adalah koar-koar di twitter, cuap-cuap di Facebook, dan nulis di blog. 

Apa ada di antara kamu yang turun di stasiun Palmerah dan menuju SCBD? *ihiyy :p


7. Punya kendaraan pribadi
 
Punya kendaraan pribadi sebenarnya adalah hal terakhir yang gue inginkan. Keinginan gue adalah menjadi komuter yang menggunakan transportasi umum yang nyaman dan aman.  Tapi sejauh ini, kenyamanan dompet gue mulai terusik. Ojek yang tiap harinya berkoar kalau harga untuk rute yang biasa gue tempuh seharusnya Rp 15.000 bikin hati gue merongrong. 

Sulitnya transportasi umum dari Stasiun Palmerah yang langsung ke SCBD selain ojek dan taksi. Sehingga untuk menggunakan transportasi umum yang langsung ke SCBD (Kopaja 19 atau Busway) maka kita harus transit terlebih dahulu di Stasiun Tanah Abang dan turun di Stasiun Sudirman, yang tentunya makan waktu lebih lama daripada turun di Palmerah.
Hal ini yang sekarang bergejolak di dalam diri gue, untuk mempunyai satu buah motor sederhana atau memperbaiki sepeda dan menggunakannya untuk menempuh perjalanan dari rumah ke kantor demi tujuan dompet yang nyaman dan tubuh yang kuat.


Itulah kira-kira tujuh pilihan transportasi yang bisa digunakan dari Serpong menuju Jakarta (lebih tepatnya kantor gue di SCBD). Di postingan selanjutnya, gue bakalan bikin perbandingan antara semua jenis transportasi ini.

"Bekal Petualang #4 - 4 Rute Terpilih Komuter Serpong"

1 komentar:

  1. nunggu aja, nunggu MRT bang, kendaraan pribadi di jakarta? wuiihhhh ngga kena macet tuh nanti ?

    BalasHapus

REPORTS

Know more about my adventures


TRAVELING

  • INDONESIA

    Sumatera

    Nangroe Aceh Darussalam | Bangka Belitung | Bengkulu | Jambi | Lampung | North Sumatera | Riau | Riau Island | South Sumatera | West Sumatera

    Java

    Banten | Central Java | DI Yogyakarta | DKI Jakarta | East Java | West Java

    Kalimantan

    Central Kalimantan | East Kalimantan | South Kalimantan | West Kalimantan

    Sulawesi

    Central Sulawesi | North Sulawesi | South Sulawesi | South East Sulawesi | West Sulawesi | Gorontalo

    Bali NTB NTT Maluku

    Bali | NTB | NTT | Maluku | North Maluku

    Papua

    Papua | East Papua

  • INTERNATIONAL

    Asian

    Japan

  • SCRIBBLE

    My Thoughs

    Inspiration | Recommendation | Tips

FOODISM

  • INDONESIA

    Sumatera

    Nangroe Aceh Darussalam | Bangka Belitung | Bengkulu | Jambi | Lampung | North Sumatera | Riau | Riau Island | South Sumatera | West Sumatera

    Java

    Banten | Central Java | DI Yogyakarta | DKI Jakarta | East Java | West Java

    Kalimantan

    Central Kalimantan | East Kalimantan | South Kalimantan | West Kalimantan

    Sulawesi

    Central Sulawesi | North Sulawesi | South Sulawesi | South East Sulawesi | West Sulawesi | Gorontalo

    Bali NTB NTT Maluku

    Bali | NTB | NTT | Maluku | North Maluku

    Papua

    Papua | East Papua

  • INTERNATIONAL

    ASIAN

    Japan

  • FOOD CATEGORY

    Categorized by

    Breakfast | Lunch | Dinner | Desserts | Junkfood | Asian | Western